We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
CAHAYA

CAHAYA

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 18, 2023
WpInfo
Non-Fiction
Terang dan sempurna. Aku dituntut selalu sempurna di segala hal oleh orang tua ku sehingga terlihat terang seperti CAHAYA. Nilai sempurna di segala hal selalu ku dapatkan. Meski lelah aku tidak berhenti melakukan hal yang di suruh mereka. Aku bertanya kepada diriku sendiri. "Lelah?" Ya aku sangat lelah. "Kenapa tidak kabur?" Kemana aku harus pergi? "Apakah kamu bahagia?" mmmm... ya aku bahagia saat menerima banyak penghargaan karena saat itu orang tua ku pun bahagia. "Apa kau punya cita-cita?" mmm... ya, aku ingin menjadi dokter. "Bukan, itu bukan cita-cita mu, itu cita-cita dari orang tua mu. Cita-citamu sendiri!" Apa maksudnya tentu saja aku ingin menjadi dok... Tidak, aku tidak mau. Aku lebih suka melukis daripada belajar. Aku ingin menjadi pelukis. Aku lelah belajar. Aku adalah cahaya yang terang. Namun, kini aku sedang mencari cahaya itu. Bukan cahaya kesempurnaan, aku ingin cahaya kebebasan di saat aku berhasil meraih cita-cita milikku sendiri. Apakah aku dapat melihat cahaya itu suatu hari nanti? !!! CERITA INI DIBUAT BOCAH 13 TAHUN. MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN. TERIMAKASIH^^
All Rights Reserved
#12
boneka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TIME will TELL {On Going}
  • ANNISA {ON GOING}
  • Anak DESA ✔
  • PAPERFLAKES
  • ALVIN (On Going)
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • My Duchess / End
  • 𝒅 𝒂 𝒌 𝒔 𝒂
  • The Heart Of A Psychopath
  • Abadinya Kisah Jerrom & Affa

"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡

More details
WpActionLinkContent Guidelines