NatanNara

NatanNara

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 2, 2023
Berbicara soal perasaan cinta di hadapannya adalah hal yang tidak berguna. Azla Kinara Fareza, anak gadis yang tumbuh di lingkungan keluarga yang kadang-kadang cemara kadang juga broken home. Tumbuh di lingkungan keluarga yang seperti itu membuat dirinya merasa perasaan dengan lawan jenis adalah suatu hal yang bodoh dan tidak tertolong. "Bahkan di dalam drama maupun dunia nyata, cinta begitu buta dan menyedihkan. Aku enggak mau ngerasain hal kayak gitu." "Nara, kamu takut jatuh cinta?" Nara terdiam sejenak kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Kalau enggak salah Ali Bin Abi Thalib radhiyAllahu ta'ala anhu pernah berkata. Cinta itu jangan di nanti, harus di dapati dengan penuh keberanian atau lepaskan dengan penuh keikhlasan dan keridhaan." "Mungkin bukan takut, aku lebih enggak punya keberanian penuh buat jatuh cinta dan enggak bisa melepaskan dengan penuh keikhlasan," ujar Nara tersenyum tipis kemudian menaikkan pandangannya ke dua bola mata Nata yang memandangnya dengan pandangan penuh arti. "Nara, aku bakal buat kamu berani mencintai aku. Aku juga enggak bakal bikin nyesel punya perasaan ke aku," ucap Nata penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri pada Kinara. "Really?"
All Rights Reserved
#55
berandalan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines