Story cover for Tanda Tangan by Amy_Djafar
Tanda Tangan
  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Feb 13, 2023
Ruangan ini terasa mengintimidasi, manakala aku harus duduk berhadapan dengan kepala personalia, Mas Beno. Di meja depan kami, menggeletak surat pengunduran diri dan pena dengan penutup membuka. Seolah ada yang menunggu sekaligus menahanku. Detak jam dinding dan jantungku terdengar jelas. Tanda tanganku dibutuhkan. Setelah itu, semuanya usai.
All Rights Reserved
Sign up to add Tanda Tangan to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" by apriani200
22 parts Ongoing
Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?
You may also like
Slide 1 of 9
Dia yang tidak pernah menoleh cover
Cerita Pendek - Separuh Hati cover
Ctrl+P My Heart  cover
Eight Prince GoodLooking (End)  cover
Kumpulan Cerita Pendek cover
Short Story cover
SHORT STORY cover
Setangkai Aster untuk Esther cover
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" cover

Dia yang tidak pernah menoleh

1 part Ongoing

Seorang remaja laki-laki duduk di bangku paling belakang sebuah kelas yang remang, menghadap jendela dengan tatapan kosong. Rambut hitam panjangnya menutupi sebagian besar wajahnya, hanya menyisakan sedikit garis rahang dan ujung hidung. Ia mengenakan jaket gelap dan headset putih yang menggantung di lehernya. Sinar matahari pagi menerobos lewat jendela, menciptakan siluet lembut di sisi wajahnya. Di mejanya, tergeletak sebuah buku dan ponsel. Seluruh suasana terasa sunyi, sepi, dan penuh misteri-menyiratkan sosok introvert yang memendam banyak cerita.