Syaukiana tak pernah membayangkan jika keluarga yang selalu ia anggap sebagai rumah ternyaman untuk pulang, hancur dalam sekejap. Bahkan saat ia tak lagi menemukan tempat paling terbaik setelahnya. Sekalipun rumah dan seisinya penuh dengan harta yang bergelimang namun justru kebahagiaan tak dapat dibeli dengan uang. Alih-alih ingin menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya namun justru kebahagiaan, menjadi boomerang bagi masa depannya. Kesempurnaan yang ia miliki justru kini menjadi hancur berkeping-keping, seakan potongan puzzle tak lagi dapat tersusun sempurna. Di saat anak perempuan tumbuh berkembang, membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih di antara kedua orang tuanya, namun justru di umur yang baru menginjak usia 17 tahun ia harus mengalami kenyataan pahit kehidupan. "Aku benci hari di mana aku bertemu dengannya! Tuhan bisakah kau cabut nyawaku pada saat lelaki itu hadir dihadapanku!"
More details