We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
The End of Nightmare

The End of Nightmare

  • WpView
    Reads 345
  • WpVote
    Votes 36
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 12, 2023
WpInfo
Fiction
Fantasy
Kesempatan untuk hidup abadi membuat banyak orang terlena. Bahkan, rela melakukan apa saja untuk mendapatkan keabadian itu. Namun, tidak bagi Alesya. Hidup abadi yang dia jalani terasa seperti kutukan dan mimpi buruk yang tak berujung. Begitu juga rasa bersalah yang begitu besar dia tanggung. Dalam perjalanan keabadian itu, Alesya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mate-nya. Aldrich Griffin, seorang pangeran berpedang putih yang membawa warna ke dalam kelamnya hidup Alesya. Ketika bersama Aldrich, dia merasa seluruh beban di masa lalunya hilang. Bersama Aldrich, dia bisa menjadi dirinya sendiri. "Pertemuan denganmu adalah akhir dari mimpi burukku." -Alesya Darrene.
All Rights Reserved
#362
sword
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • fated in darkness
  • Aluna : The girl who mated to the Royalty
  • SAAT NAMAKU TERLUPAKAN
  • Eiji: Journey of Identity

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines