Love Is Healing?

Love Is Healing?

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 19, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"don't believe in love, love is bullshit and pain is not healing " - Luecar *** Trauma karena di khianati pacar dan sahabat sendiri, Elvio Luecar Fernandez memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi. Namun siapa sangka, ia bertemu seorang gadis yang jauh dari kotanya melalui sebuah aplikasi, yah... dia melakukan hubungan LDR bersama Razea Tamara Pruistine. Mulanya Luecar merasa bahagia, akan tetapi sepupu perempuan Luecar yang merupakan sahabat Razea memberi tahu bahwa Razea berselingkuh. Luecar merasa di khianati lagi bahkan ia hampir menjadi gila, walaupun begitu luecar tidak mengakhiri hubungannya dengan Razea,ia takut informasi dari sepupunya itu tidak nyata.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 360 and Still Me
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • REGRET [END]
  • HILANG [Segera Terbit]
  • Aneyra -after meet you
  • Keano

Violetta Lanora Adinata pergi tanpa pamit-meninggalkan cinta pertamanya, sahabat-sahabat yang pernah jadi rumah, dan serpihan kenangan dari masa putih abu-abu yang tak selalu manis. Tak ada kata maaf, tak ada salam perpisahan-hanya kepergian yang sunyi, dibungkus diam yang panjang. Namun waktu, dengan caranya sendiri, menyeretnya kembali ke tanah tempat segalanya bermula. Dan di sana, semesta seolah tak memberinya pilihan lain selain menghadapi apa yang selama ini ia hindari-luka lama, tanya yang tak pernah terjawab, dan cinta yang mungkin belum benar-benar usai. Alvaro Nata Prabawa-tinggi, berwibawa, dengan wajah yang nyaris mustahil diciptakan tanpa sentuhan seni ilahi. Garis rahangnya tegas, hidungnya bangir sempurna, dan sepasang mata tajam yang dapat membuat siapa pun yang ia tatap menjadi membeku dan terpana. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin, nyaris menusuk. Tapi yang membuatnya terhenti sejenak adalah kenyataan bahwa gadis itu, gadis bermata hazel yang dulu selalu menatapnya dengan mata penuh kelembutan, kini membalas dengan sorot mata yang sama tajamnya. Sama menusuknya. Seolah waktu telah mengajarkan mereka bagaimana menjadi asing, mereka kini berdiri sebagai dua kutub yang tak saling mendekat, asing dalam bayang-bayang kenangan yang belum selesai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines