Sajak Aksara

Sajak Aksara

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 10, 2024
Terlalu sering diabaikan dalam hal percakapan menjadikan beberapa manusia lebih memendam sendiri dan disalurkan dalam bentuk tulisan yang berisikan isi hatinya dalam setiap bait dan sajak yang ia tuliskan. Menulis bukan suatu hal pekerjaan yang sia-sia, beberapa orang menganggapnya adalah sebuah kelegaan. Bercerita tanpa harus takut terabaikan, menulis isi hati dan pikiran tanpa takut dihakimi bahkan dibandingkan dengan kisah si lawan bicara. Menurut seorang penulis bukan hanya dengan menangis saja dapat mengurangi beban pikiran,tapi dengan menumpahkan isi hati melalui tulisan itu juga dapat mengurangi beban pikiran
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Pertemukan
  • Narasi patah hati
  • Siklus Rasa
  • glücklich sein
  • Coretan Hitam
  • Meneroka Jiwa 2
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda
  • MY HOPE IS YOU (END)
  • Burn it [END]
  • ALL MY WOUNDS

Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sembuh, tapi tentang seberapa tulus kita memilih untuk terus melangkah, meski dalam keadaan belum pulih sepenuhnya. Caca bukan gadis yang sempurna-dan ia tidak sedang berusaha untuk menjadi satu. Ia hanya ingin belajar berdamai dengan masa lalu, dengan dirinya, dan dengan dunia yang dulu terasa terlalu bising untuk hatinya yang rapuh. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Ia menyimpan amarah, kecewa, dan keraguan pada dirinya sendiri. Tapi pelan-pelan, langkah kecilnya membawanya keluar dari gelap yang lama membungkusnya. Bukan karena semua rasa sakit itu tiba-tiba hilang, tapi karena kini ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Melalui kegiatan OSIS, ia belajar suara dirinya juga berharga. Lewat pengalaman volunteer, ia tahu bahwa memberi bukan soal mampu atau tidak, tapi tentang peduli. Dan lewat kehadiran Aji, ia mulai memahami bahwa ia layak dicintai-tanpa syarat, tanpa harus menjadi orang lain. Caca mungkin tidak akan pernah benar-benar melupakan luka yang dulu, tapi kini ia tidak lagi membiarkan luka itu mengatur jalan hidupnya. Ia menoleh ke belakang bukan untuk tenggelam dalam kenangan, tapi untuk mengingat betapa jauh ia sudah melangkah. Ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa diam saat disakiti-ia telah menjadi pribadi yang tahu cara mencintai, terutama mencintai dirinya sendiri. Pada akhirnya, DiPertemukan bukan sekadar cerita tentang cinta antara dua orang. Ini adalah kisah tentang pertemuan-pertemuan yang membawa makna. Pertemuan dengan teman baru, pengalaman baru, dan yang paling penting-pertemuan dengan jati diri yang selama ini tersembunyi. Caca tidak diselamatkan oleh siapa pun. Ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri... dan itu adalah bentuk keberanian yang paling indah. Penulis Calista Maulidina Syofyan

More details
WpActionLinkContent Guidelines