LONELY
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 23, 2023
Setiap orang pasti memiliki kesan tersendiri tentang rumah right?rumah tempat kita pulang dan merasakan kelelahan,tapi tidak dengan Vano. Vano merasa rumah adalah tempat yang sangat ia hindari untuk itu,karena adanya ia di rumah bukan mengurangi beban tapi menambah beban. Jangan kalian berpikir bahwa orang tua Vano sosok yang sangat jahat seperti ibu tiri,tentu saja tidak, bahkan Vano bisa di bilang ia memiliki keluarga yang harmonis dan utuh. Tetapi kekurangannya cuma satu Vano selalu merasakan kesepian?kenapa bisa begitu?entahlah cukup baca cerita selanjutnya setelah ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • 6 Raga 1 Jiwa [BOYNEXTDOOR]
  • SIBLINGS
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • Jalan Kecil Untuk Pulang
  • Aseano Samudra [End]
  • DUNIA HAMPA
  • Kesedihan [SELESAI]
  • Rumah Pulang

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines