MORS
  • WpView
    Membaca 285
  • WpVote
    Vote 27
  • WpPart
    Bab 32
WpMetadataReadLengkap Rab, Mei 14, 2025
"Kemana kita pergi saat kita mati?" Aku tidak mengharapkan jawaban, tentu. Tapi kakakku, Jove, membisikkan jawaban tanpa ragu-ragu. "Ketiadaan." Saat itu Jove menjawabku berdasarkan logika. Aku jadi ingin tahu, bagaimana jawabannya sekarang seandainya aku menanyakannya lagi? **** Ketika Kematian tak dapat menjangkau manusia, muncul Tanda di tubuh mereka sebagai token bahwa waktu mereka di dunia telah berakhir. Sanggupkah manusia saling membinasakan untuk menjaga keseimbangan dunia?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#346
pandemi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • 2 Reflection  ✔️
  • Touch Your Heart | END
  • I'm Serious! [End]
  • TRANSMIGRASI BERDARAH BL (END)
  • Fractures of Time
  • Into : You [Proses Terbit]
  • The Villain Want to Die (END)
  • Capuccino Sore Itu  ✅ [Tamat dan sudah Direvisi]
  • I Wanna Be Antagonist (end)

'People come and go' sebuah kalimat sederhana, namun menyimpan segudang makna. Kadang, kita tak bisa memaksa siapa pun untuk tetap tinggal. Kadang, semesta perlahan menarik mereka menjauh, meski hati kita memohon agar mereka tetap di sini. Tapi.... Akankah cinta kita bertahan? Akankah cinta ini terus hidup, bahkan hingga maut memisahkan kita? Percayalah, tak ada seorang pun yang benar-benar mencintai momen perpisahan. Setiap perpisahan selalu membawa luka, selalu meninggalkan sepi. Kau tau? Hal paling menyakitkan dari sebuah perpisahan bukanlah sekadar kehilangan, melainkan kenangan berupa serpihan momen indah yang pernah diukir bersama. Ia tak mati, justru hidup di tiap sudut pikiran, membunuh perlahan kewarasan, meremuk remuk hati yang telah renta oleh rindu, melahap tanpa ampun jiwa-jiwa yang rapuh, meninggalkan raga yang tergolek pasrah di altar sunyi penantian tanpa ujung. Namun, kita sudah berjanji kan? Kita akan tetap berjalan beriringan, meski badai mencoba memisahkan, meski waktu perlahan memudarkan, meski dunia perlahan melupakan. Dan bila kelak akhir itu datang, biarlah aku tetap menggenggam tanganmu, dalam sunyi, dalam gelap, hingga hanya detak terakhir menjadi saksi, bahwa cinta kita tak pernah mati. ••••• Start : 1 Juni 2025 Finish : By Tres Alas

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan