Story cover for Silence by unproject
Silence
  • WpView
    Membaca 12
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 5
  • WpView
    Membaca 12
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 5
Bersambung, Awal publikasi Feb 27, 2023
"Hay, apa kabar?" Lelaki itu bertanya tanpa suara pada gadis di depannya. Dia terdiam dan terus menatap ke depan, memerhatikan gadis yang tak ditemuinya hampir satu tahun. 

"Sangat baik," balas gadis itu dengan senyuman yang mengembang. 

Sadha terdiam, melihat senyuman yang lama tak terlihat membuat dadanya kembali berdebar dan ada perasaan haru. Dia tak ingin menangis, tetapi air matanya terus menetes tanpa di cegah. 

Rambut yang semula pendek sekarang sudah sangat panjang dan lurus. Mata itu tak bisa berbohong, dia sangat lelah dengan keadaan. Namun, senyuman yang tersungging di bibir yang tak sepucat saat itu terlihat sangat tulus. 

"I love you." Sadha berkata lagi sembari mengusap air matanya saat melihat gadis di depannga juga menangis. Dia menempelkan tangan di kaca penghalang diantara mereka dengan harapan bisa menyentuh wajah itu. 

"I love you to." Gadis itu membalas dengan senyuman yang tak luntur, dia menempelkan tangan tepat pada tangan Sadha. "Terima kasih sudah berubah menjadi lebih baik." 

Melihat perubahan Sadha, Dasa sedikit bangga. Perjuangan mereka tak sia-sia dan hanya perlu menunggu waktu untuk kembali bersama. Saat itu tiba, Dasa berjanji akan menjadi seorang yang lebih baik seperti Sadha sekarang.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan Silence ke perpustakaan Anda dan menerima pembaruan
atau
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
Vericha Aflyn ✔️ oleh Icacty_
58 bab Lengkap
#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 9
SUARA BIA (TAMAT) cover
Korban silaturahmi [TAMAT] cover
ALYA  cover
AGAVAN (H I A T U S) cover
I'm promise with you cover
Vericha Aflyn ✔️ cover
KAIREL [END] cover
Ex or New? [REVISI] cover
K.I.T.A cover

SUARA BIA (TAMAT)

47 bab Lengkap

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️