Story cover for Primrose by inzistory
Primrose
  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Mar 01, 2023
Kalea leven, gadis itu termenung menatap lukisan yang menggantung di hadapannya. Terlihat seorang anak perempuan yang sedang memegang setangkai bunga dengan sebagian wajah yang tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin, namun siapapun yang melihatnya bisa merasakan kebahagian yang terlukis di sana.

"PRIMROSE"

Itulah nama yang tertulis di bawah lukisan tadi, Primrose merupakan salah satu  lukisan yang sangat terkenal dari seorang seniman saat dirinya masih berusia empat belas tahun. Sekaligus lukisan terakhir dari karyanya yang memiliki banyak warna sebelum ia kehilangan itu semua.
All Rights Reserved
Sign up to add Primrose to your library and receive updates
or
#16majumundur
Content Guidelines
You may also like
Petikan Lingga by alergi_alergy
12 parts Complete
Suara petikan gitar mengisi ruangan kecil itu, menggema lembut di antara dinding-dinding kosong. Lingga duduk bersila di lantai, memeluk gitar akustiknya seperti seorang sahabat lama yang selalu setia mendengar. Tangannya bergerak perlahan, memainkan melodi yang sederhana namun penuh makna. Mata Lingga terpejam, seakan mencari ketenangan di antara setiap nada yang ia mainkan. Hari itu, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Langit berwarna jingga keemasan, tanda bahwa senja sudah mulai memeluk hari. Lingga tahu bahwa waktu terus berjalan, namun ia merasa seolah detik-detik itu melambat saat ia tenggelam dalam musiknya. Di sudut ruangan, terletak sebuah foto kecil yang berdiri di atas meja kayu. Foto itu adalah potret dirinya bersama Nalendra-tertawa bersama di sebuah taman dengan cahaya matahari menerpa wajah mereka. Lingga melirik foto itu sejenak, senyumnya muncul tapi dengan berat, seakan ada sesuatu yang tertahan. Petikannya terhenti. Lingga menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, memandangi gitar di pangkuannya. "Len... gue nggak tahu kenapa gue selalu mainin lagu ini setiap kali gue mikirin lo," gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Hening. Hanya ada suara angin yang meniup lembut tirai jendela. Lingga kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, mencoba mengingat saat-saat ia dan Nalendra duduk bersama di tempat ini. Gitar yang kini di tangannya pernah dimainkan oleh Nalendra, bahkan melodi yang ia mainkan barusan adalah lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. "Mungkin lo bener, Len," bisiknya pelan. "Hidup ini nggak selalu soal yang sempurna, tapi soal belajar menerima." Lingga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat.
You may also like
Slide 1 of 8
Halte Bus dan Lukisan Perpisahan cover
ASRAR [TERBIT] cover
Syv : The Legend of Casambra cover
THE NAMELESS MAN AT MIDNIGHT [TERBIT] cover
Keajaiban di Kota Magome [END] cover
The Queen's Revenge cover
Petikan Lingga cover
Menjadi Permaisuri Yang Ingin Bercerai (END)  cover

Halte Bus dan Lukisan Perpisahan

7 parts Complete

Kala hujan, di halte itu mereka bertemu. Sang pelukis yang tak pernah dihargai, dan seorang gadis yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Melalui kuas, kanvas, dan cat, perasaan mereka tertuang. Namun, akankah itu semua bertahan selamanya? - "Semua lukisanku akan berakhir di pasar loak dengan harga super murah atau bahkan di tempat sampah, bukan diabadikan di museum."