Loser
  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 3, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Kita semua adalah pecundang. Menyembunyikan kemunafikan diri dan selalu mencari pembenaran" *** Angin bertiup pelan seiring riak air yang semakin tenang, tongkang besar itu menjauh menyisakan kesepian disepanjang aliran Sungai Kapuas. Sepasang mata menatap lurus. Kosong. "Tha, aku salah. Tapi mau sampai kapan kita begini terus" Ucap seorang lelaki. Memecah keheningan wanita yang terdiam disampingnya. "Kamu pilih aku atau dia?" Tanpa basa-basi, Martha mengutarakan hal yang belakangan mengganggu pikiran dan hatinya. Diam. Keduanya terpaku dalam kebisuan, tak ada jawaban dari laki-laki yang sedari tadi duduk disamping Martha. Kini wanita itu kembali menatap kosong.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Menanti
  • FEARLESS || JAYISA
  • Para Pemilik Nama
  • Angel To Raya (END)
  • Kalau Aku Telpon, 'Dia' Marah Gak?
  • TWIN FLAME { ON Going! }
  • MY LOVE STORY
  • Mahligai Sunyi
Menanti

Kita berjalan tanpa ikatan dan mulai menelusuri ruang harap yang akan berakhir dengan ketulusan. Semakin berjalan menulusuri lorong itu, semakin terlihat jelas sorot mata itu melukiskan ketulusan namun satu hal yang membuatku bingung, mata yang selalu menatap dengan hangat, perlakuan hangat yang selalu hadir menemani namun tak pernah datang memberi kepastian. Ya lebih tepatnya membuka ruang harap untuk sebuah ketulusan, namun tak kunjung memberikan kepastian dan tak sanggup untuk melepas. Semakin melangkah, langkah kita semakin beriringan hingga kehadiran seseorang di ujung lorong menyapa dan membuat langkah kita terhenti. Sosok Seorang perempuan yang sudah tidak asing bagi ku sedang berdiri di ujung lorong yang tak pernah ku lalui sebelumnya memanggilnya dan membuat ku tersadar bahwa ketulusan yang selama ini ku nanti adalah sebuah fatamorgana. Kepercayaan yang ku bangun hancur berkeping keping. Saya tahu betul bahwa dia berjalan di lorong yang lain dgn sosok itu namun telah berakhri di ujung lorong. Namun semua yang dia katakan hanyalah kebohongan agar saya tetap menemaninya berjalan di lorong yg lainnya. Hingga akhirnya ku lihat dirinya yang menghampir seseorang itu di ujung lorong dan meninggalkan ku sendiri yang masih tetap terdiam menatapnya pergi menulusuri lorong lain bersama sosok yang tak asing lagi di lorong masa lalunya. Bagaiamana Lina bangkit dari ketepurukannya saat Ray memutuskan untuk berhalan menghampiri masa lalunya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines