Perpustakaan Manusia

Perpustakaan Manusia

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 13, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Tempat dimana berisi ruang cerita setiap raga yang bernyawa, entah itu rasa cinta, maupun nestapa hingga duka cita-mungkin juga sebuah doa-doa yang rela dan ikhlas yang selalu dikumandangkan kepada mereka yang membutuhkannya. Kita semua adalah manusia-manusia yang melankolis, namun sering kali menutupi-nutupi luka itu sendiri dengan cara bengis dan tragis. Cerita tentang patah hati, tragedi, maupun rentetan peristiwa yang terjadi adalah hasil dari kalkulasi yang bersedia mereka utarakan sebagai bentuk persembahan bagi yang ditinggalkan ataupun meninggalkan.Pada akhirnya kita semua hanya bisa menikmati proses dan perjalanan dalam kilometer kehidupan. -Marilah ikut bersamaku, menyelami setiap palung terdalam manusa, agar kalian mengerti bahwa tidak semua pertemuan dan perjumpaan akan menuai kemenangan yang kita inginkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • C
  • Happy Ending
  • ...
  • Narasi patah hati
  • Luka dan Malam [END]
  • [1] LUKA SEMESTA [END]
  • GADIS
C

"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines