Bram, 19 tahun, mahasiswa semester tiga yang dikenal dingin dan berbakat dalam musik, menjalani hidupnya dengan jarak yang aman dari orang lain. Baginya, nada lebih mudah dipahami daripada manusia. Musik adalah tempat ia menyimpan luka, harapan, dan keraguan yang tak pernah ia ucapkan.
Jane, 19 tahun, mahasiswi ceria yang dikenal luas di kampus, hidup dengan energi yang nyaris berlebihan. Ia dramatis, haus perhatian, dan selalu tampil seperti pusat panggung. Namun di balik tawa dan keberaniannya, ada ketakutan untuk tidak dianggap penting.
Pertemuan mereka terjadi dalam sebuah konser kampus. Bram tampil dengan lagu yang tenang dan jujur. Jane, yang biasanya tidak pernah benar-benar diam, mendadak terhenti oleh petikan gitar itu. Dari percakapan singkat setelah konser, keduanya mulai saling mengenal-perlahan, canggung, dan penuh tarik-ulur.
Hari-hari berikutnya di kampus, di kedai kopi favorit mahasiswa, hingga obrolan panjang di rumah masing-masing, membuat mereka semakin dekat. Jane berusaha menembus dinding emosional Bram. Bram mencoba memahami kenapa Jane selalu ingin dilihat dan didengar.
Hubungan mereka berkembang di antara perbedaan.
Todos los derechos reservados