P.A.I.N
  • WpView
    Reads 10,881
  • WpVote
    Votes 916
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 30, 2025
"Hujan tak pernah tau, ia turun untuk apa. tpi air mata tau untuk apa dia turun" ⚠️ Trigger warning ⚠️ Harap baca dengan bijak. Cerita ini hanya karangan author, jngan sampai terbawa ke real life ya🤗🤗
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Luka Naren. ( SUDAH TERBIT )
  • Don't hate me || Jeno Jaemin [END]
  • They Never Know | Haechan (END)
  • How Can? [✔]
  • Life has no CTRL + Z ✔ [END]
  • Perfect [Na Jaemin] [✔️]
  • Jangan Pergi Kakak!! [END] ✔️
  • protect him (renjun ft. Ning Ning)
  • Kamar Matahari No. 3 ✔ [END]
  • aku hanya beban [so fullsun]

Bagi Naren, rumah bukan tempat pulang. Hanya bangunan penuh suara yang tak pernah mendengar. Sendirian di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah memberinya ruang, Naren hanya ingin satu hal: diterima, meski sekali saja. "Adik gue cuma satu. Cuma Hema." Kalimat itu menamparnya lebih keras dari apa pun. Apakah keberadaannya hanya luka? Apakah ia masih dianggap? Atau justru menjadi alasan penderitaan yang tak berujung? Di tengah ujian hidup yang terus berdatangan, Naren berjuang sendiri menghadapi rasa bersalah, kehilangan, dan harapan yang nyaris pudar. Ini adalah kisah tentang luka yang tak terlihat, tentang rasa sepi di tengah keramaian... dan tentang seorang laki-laki yang diam-diam ingin pulang namun bukan ke rumah, tapi ke hati yang bisa memeluknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines