CINTA YANG TAK SEMPAT DIBERI NAMA
Wira datang ke Bali untuk berlibur bersama keluarga besar. Di villa yang ramai itu, pandangannya tertuju pada seorang koki berambut panjang bernama Bakir-orang yang sejak pertemuan pertama berhasil membuatnya jatuh hati tanpa perlawanan.
Yang awalnya hanya ketertarikan diam-diam, perlahan berubah menjadi kedekatan yang sulit dijelaskan. Di tengah malam-malam yang panjang dan kehangatan yang tak sempat diberi nama, mereka saling jatuh dalam kenyamanan yang sama-sama membingungkan. Wira sudah yakin dengan perasaannya. Sementara Bakir, meski nyaman dan tak bisa menyangkal adanya rasa, masih terhalang oleh keraguan dan ketakutan akan dirinya sendiri.
Ketika liburan hampir berakhir, jarak yang tiba-tiba dibangun Bakir memaksa mereka menghadapi apa yang selama ini ditunda. Di antara air mata, pengakuan yang setengah-setengah, dan perpisahan yang tak sempat tuntas, tersisa satu pertanyaan yang sama di hati keduanya:
Apakah kenyamanan itu cukup untuk disebut cinta... atau justru hanya menjadi kenangan paling indah yang harus ditinggalkan?
Sebuah kisah tentang jatuh cinta di waktu yang salah, kenyamanan yang menakutkan, dan perpisahan yang terasa lebih dalam karena keduanya sama-sama tidak berani.