Kapten Agam

Kapten Agam

  • WpView
    Leituras 706
  • WpVote
    Votos 371
  • WpPart
    Capítulos 16
WpMetadataReadMaduroConcluída qua, jul 12, 2023
Langit malam yang ditemani oleh hujan menjadi saksi kepergian seorang Kapten yang amat sangat menyukai segala isi semesta. Petir yang menyambar menjadi petunjuk jalan untuk mengantarkannya menuju tempat impian. Angin yang berhembus kencang menjadi pendukung arah belakang akan kepergiannya. Kabut yang menyelimuti udara menjadi titik pemberhentian sementara untuk sebuah burung besi kebanggaannya.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • Albi ( My pilot )
  • Possesive Playboy
  • Namanya Intan (TAMAT)
  • DELAPAN SEMESTA
  • 21- Qinthara's
  • GRIZLEN {On Going}
  • Lautan Yang Tak Sempat Kita Seberangi
  • Mari Saling Bicara

Hati yang Setia selalu merunduk-merendah mencari jalan-jalan terang dalam hidup, dan disaatnya LANGIT pasti akan menunjukan jalan Kesetiaannya. Cinta sejati tak akan lekang oleh waktu. Namun akan kembali dengan cara yang menakjubkan. Rakha dan Kinanti bagai layang-layang kembar. Terbang tinggi ke langit menembus awan tertinggi memohon diturunkan Cahaya untuk menerangi hati yang sepi pada Kerinduan yang tidak pernah bertepi. Diatas perahu di Selat Bali, Rakha hanya memandang gerak Langit, senyap dalam doa. Tiba-tiba tampak Langit Terbelah Cahaya Purnama. "Ooh Betapa Agungnya Engkau Maha Tercinta... " Kinanti berjalan menghitung langkah satu demi satu, menatap lembayung senja yang melintasi bebukitan hijau yang mulai menua. "Aishiteru Rakhaaa... Kamu dimana !!!" Langit pun terpaksa menangis... Bersama deru hujan yang datang kejar-mengejar dengan suara Angin yang berhembus kencang. "Kin ! .. KUA terdekat dimana? Bisa nggak kita daftar malam ini juga?" Rakha mulai serius menggoda pada pertemuannya yang baru berselang sekian menit. "Hayu, siapa takut?. Kita cari dulu muka yang tampangnya alim untuk jadi saksi nikah kita ya?"

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo