Spasi tanpa Jeda

Spasi tanpa Jeda

  • WpView
    LECTURAS 60
  • WpVote
    Votos 6
  • WpPart
    Partes 6
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, mar 29, 2023
Pertarungan hati membuat Mentari harus menjadi seorang gadis yang kuat, hingga tak tersentuh. Melawan rasa penuh benci, sekaligus membawanya ikut menghancurkan sebuah harapan. Akankah seorang Mentari dapat menemui kehidupan barunya setelah luka, yang hampir membuatnya kehilangan kendali? Mungkinkah Mohammad Zidan Al-Husein adalah pria yang dititipkan Allah untuk merubah warna di kehidupannya? Yuk disimak. "Terkadang, kehidupan penuh dengan tanya. Di saat dia memberikan spasi, lalu tak memberikan isyarat untuk kata berhenti. Namun, ternyata ada kata salah di sini, kehidupan terus-menerus membuatku lelah tanpa jeda." (Mentari Ghania Fazila). "Tahu Idzhar dalam hukum Tanwin? Nun Mati dan Tanwin adalah hal yang tidak dapat disatukan. Jika ada Nun Mati, berarti Tanwin tidak ada, begitu pun sebaliknya. Intinya Nun Mati dan Tanwin adalah dua hal dari kesatuan yang tidak dapat disatukan. Kamu mengerti apa yang saya maksud? Dalam kehidupan kita akan menghadapi semacam itu, dilematis. Langkah pertama yang harus ditempati adalah harus Idzhar, harus jelas. Jelas mau kemana kita harus memulai langkah selanjutnya. Intinya, kita tidak bisa mengambil kesimpulan yang seperti kamu katakan, spasi bukan berarti dia tidak tahu bagaimana cara berhenti. Lurus, pandang ke depan, jadikan kehidupan seperti spasi tanpa jeda. Dan berhenti disuatu tempat di mana kamu harus diwajibkan untuk berhenti." (Mohammad Zidan Al-Husein).
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • TEOLOGI CINTA
  • Dia, Manusia Bernama "Lelaki"
  • Kutemukan Cinta Di Tanah Suci
  • Selembut Dhuha Menyapa (TERBIT)
  • HIDAYAH CINTA UNTUK ZHAFIRA (TERBIT)
  • Dia Nazzam
  • Azzam Al-Fatih
  • Cinta Dalam Iman

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido