puspa . phc

puspa . phc

  • WpView
    Reads 22,408
  • WpVote
    Votes 1,577
  • WpPart
    Parts 48
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 24, 2024
WpInfo
Fanfic
sesungguhnya , engkaulah adinda puspitaku . impianmu yang sungguh murni , menambah keindahan harapanku , sesungguhnya jikalau harapan ku telah ditakdirkan untuk bersama mu , kebahagiaan sentiasa menemaniku . ~ gelora ; p.ramlee & saloma ~ start : seventeen march two thousand twenty three end : n/a
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stuck In Memories
  • kerana janjinya
  • THE KAPLA'S CINTA HATI
  • [C] No Love 🔹사랑이 없다🔹 | Jimin
  • semesta; a. kahar [✓]
  • [✔️]Second Love | Park Jihoon
  • Di Bawah Bintang  Yang Sama [ C ]
  • LAYAK KE AKU [C]
  • LUCIYANA(OG)

Seketika ingatanku terjebak pada harapan bodohnya. Ketika kami duduk berdampingan pada malam yang kelam benderang : "Nanti kalo udah jadi arsitek beneran, gue bakal rancang rumah mini gue disini. Rumah beratap rumbia yang ada cerobong asapnya. Lantai marmer dan dinding dilapisi cat pastel anti air plus taman baca berbentuk daun teh. Klop banget". Peter menyampaikan impiannya itu dengan gerakan tangan, seolah-olah ia benar-benar merancangnya. Langsung saja aku menepuk lembut pipi kanannya. "Itu proyek gue, ya maksudnya rancangan proyek gue kalau kita udah nikah nanti" Ujarnya lagi membetulkan "What a strange project" Responku singkat. Kami tertawa berbarengan. Sejenak kemudian kami sama-sama diam. Di malam yang dingin dan pemandangan yang menakjubkan itu, aku bersyukur beberapa kali diberi kesempatan untuk bisa bersamanya dan berharap esok akan tetap seperti ini. Bahkan lebih dari sekedar malam ini, esok dan seterusnya pun akan menjadi milikku dan dia. Entah dipikirannya sama denganku atau tidak, seperti yang ia katakan, spesial itu adalah ketika kita bersama orang yang kita sayangi dalam kondisi sesulit apa pun. Itu tepatnya. Dan, yang sekarang aku pinta hanya ingin dia hadir disini. Merencanakan mimpi-mimpi bodohnya lagi. Tapi, apa masih bisa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines