Setelah Hujan

Setelah Hujan

  • WpView
    Reads 43
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 2, 2023
"Gev, cukup. Hapus semua ambisi lo, karena pada kenyataannya lo nggak butuh gue." - Azharea Melina "Lo salah. Hujan datang, karena bumi membutuhkan, Re." - Gevariel Anthonio. Geva dan Rea terlibat perasaan di dalam persahabatannya. Geva memilih untuk menyadari dan mengakuinya. Namun, tidak dengan Rea yang tanpa sadar membohongi perasaannya sendiri. Terlebih karena traumanya, ia harus berkata dengan lantang bahwa ia tak menyukai cowok manja seperti sahabatnya. Kisah mereka dibuat semakin rumit dengan hadirnya Jason, teman kecil Rea yang datang dari Amerika. Belum lagi dengan Linka, gadis hyperactive yang sangat tulus mencintai Geva. . . #nunobenoia #nubeskesatunoia #ayoberanibarengaieunoia
All Rights Reserved
#438
bestseller
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Dalam Rintik yang Sama
  • Love Letters [END]
  • Awan Abu-Abu [END]
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • ANTARA KITA DAN CERITA
  • I'm Not Perfect ||《NA JAEMIN》
  • Sergio | Haechan
  • New Universe : Transmigration
  • Rainangkasa [TERBIT]✅

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines