Amerta Dye Adiwarna, gadis 16 tahun yang menjadi anak bungsu dari keluarga besar yang berprestasi. Gadis ceria, cengeng dan suka rebahan. Meta sering kali dibanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya yang sukses dan teman sekelasnya yang pintar. Apalagi saat arisan di rumah bundanya, ia harus menghadapi sindiran pedas dari mama Tiara - ibu dari siswa peringkat dua umum.
Namun, alih-alih larut dalam rasa malu, Meta justru mulai menemukan tekadnya sendiri. Meski tak punya prestasi gemilang dan belum tahu masa depan, Meta akhirnya berani bersuara:
ia ingin jadi arsitek!
Cerita ini dimulai dari konflik keluarga yang relatable, tekanan sosial yang sering dirasakan anak bungsu, hingga kisah tumbuhnya semangat baru. Mulai merelakan rebahan yang selama ini dia sukai, dan mulai mengajak pembaca menyaksikan perjalanan dari meta si cengeng hingga jadi gadis yang mempunyai tujuan sendiri.
"jadi pacar gue" ucap arshaka dan ia mendaratkan pantatnya di kursi taman.
ansel yang sedang membaca novel itu melirik sekilas arshaka "gue ga mau.
arshaka tersenyum remeh dan bangkit dari duduknya. lalu ia berjalan mondar-mandir di depan ansel dengan tangan yang bersedekap di depan dada.
"kok bisa Abang gue punya pacar cewek aneh kayak Lo. kalau bukan karena pesan terakhir Abang gue, gue ga mungkin mau pacarin cewek modelan lo gini. cewek yang suka berimajinasi sampai di buat puisi" ucap arshaka.