Luna Kayla Surya tak menyangka bahwa ia akan memasuki sebuah novel yang ia temukan di gudang rumahnya. Ini tak masuk akal pikirnya.
Yang lebih gilanya lagi ia memasuki raga siswi yang dibully yang berakhir mengakhiri hidupnya sendiri di rooftof sekolah.
Benar benar Gila.
Lana dengan ucapan Toxicnya paling anti dengan dengan hal yang berbau romantis atau yang menggelikan, penyuka kucing dan benci yang namanya penindasan.
Ini kisah Luna yang ternyata mencari jati dirinya yang telah lama hilang ia lupakan hingga akhirnya Luna menjalani kehidupannya yang sebenarnya.
Persahabatan yang terjalin melebihi ikatan darah, namun harus hancur. Dua perempuan yang terbiasa menutupi luka dengan mencari seseorang dengan harapan bisa memahaminya.
Terbiasa terabaikan menjadikan seseorang lebih memilih diam, terkadang terbiasa di hina akan menjadikan seseorang menjadi sosok lain yang lebih sulit untuk di mengerti.
"Aku sangat suka bunga. Tapi aku hanya bisa mendapatkannya dengan satu cara."
"Kamu terlalu berisik. Ingat kamu bukan lagi anak-anak!"
Terkadang jatuh berkali-kali hanya demi ingin mendapatkan uluran tangan yang tulus, namun tak pernah mendapatkannya.
Terkadang seseorang yang selalu peka terhadap perasaan orang lain, adalah orang yang menaruh besar harapan mendapatkan hal itu juga.
"Bahkan bunga edelweis yang terkenal abadi, juga bisa layu jika terus terkena tetesan air hujan, tanpa terkena hangatnya sinar mentari. Begitu pula manusia,"