Diam yang terluka

Diam yang terluka

  • WpView
    Reads 74,763
  • WpVote
    Votes 190
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 20, 2025
Memangnya salah jika kita terlahir sebagai tunawicara? Memangnya salah kalau kita dibesarkan di panti asuhan? Pertanyaan itu selalu hadir di benak gadis yang berusia enam belas tahun itu. Ameena Az-Zahra namanya. gadis yang memiliki keistimewaan yang dititipkan oleh Allah. Bukan dia yang menginginkan terlahir seperti ini, tapi takdir. lantas, mengapa orang-orang selalu memandang dirinya sebelah mata? mengatakan bahwa dirinya adalah kesialan. Ini adalah kisah gadis bernama Ameena Az-Zahra atau yang sering di sebut orang-orang dengan 'si bisu pembawa sial'. ~~~ "Aku tidak ingin memasukan setiap cacian kalian ke dalam hati. Tapi, aku lupa, bahwa aku adalah seorang wanita yang juga sama seperti wanita pada umumnya, yang selalu memakai hati ketika berperilaku. Dan, setiap cacian yang kalian lontarkan selalu berhasil menorehkan luka dihatiku." Ameena Az-Zahra.
All Rights Reserved
#204
tunawicara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Senja Bersamamu | √
  • Takdir untuk Zura[on going]
  • Kekuatan Do'a
  • ELSHANUM AZ-ZAHRA (COMPLETE)
  • HAISYA : Gus Haidar & Alesya
  • WANITAKU,HUMAIRA [TAMAT]
  • Qanita
  • Skenario Allah✔[End]

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines