Lyra: The World After Dusk

Lyra: The World After Dusk

  • WpView
    Reads 105
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 18, 2023
WpInfo
Fiction
Fantasy
"AARON GUE CINTA LO," teriak gadis itu menarik pusat perhatian seluruh sekolah. Feshika Lavi dengan tidak tahu malunya berdiri diatas meja yang berada di koridor kelas hingga menghalangi jalan siswa-siswi yang hendak lewat. Ia tak menghiraukan tatapan menghunus dari siswi-siswi yang juga merupakan penggemar Aaron Gibrael, siswa yang bertalenta dalam segala bidang sekaligus memiliki paras yang tampan, bertubuh altetis, dan dari keluarga terpandang. Feshika Lavi menjatuhkan gulungan kertas yang semula ia gunakan untuk berteriak, ia dengan penuh percaya diri menyugar helaian rambut yang berjatuhan menutupi wajahnya kesamping. Seketika para kaum adam menganga karena terpancar aura kecantikan dari seorang Feshika Lavi yang biasa disebut 'Dewi' oleh para kaum adam di sekolah. Namun dari ratusan siswa, hanya satu siswa yang tak terpengaruh oleh kecantikannya. Ia hanya menatap malas gadis yang lagi-lagi mengganggunya. Feshika Lavi mengedipkan satu matanya menatap pria yang berdiri di bawahnya itu. Ia dengan anggun hendak menuruni meja yang sedari tadi sudah menjadi pijakan dan menahan bebannya. Bruak..... "Hhhaa...." Seketika suasana kembali menjadi riuh oleh tawaan dari ratusan siswa siswi melihat Feshika Lavi yang terjungkal dari atas meja. "Sialan," umpat Feshika Lavi dalam hati karena kecerobohannya sekarang ia menjadi bahan tertawaan makhluk kurang pengetahuan itu bahkan lebih parahnya didepan pria pujaannya. Feshika Lavi bangkit dari tengkurapnya, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar akibat terantuk ubin lantai. Pakaiannya yang semula rapi kini sudah teracak-acak serta debu yang mengotorinya.
All Rights Reserved
#1
abad20
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GHAVARI
  • I transmigrated to become a mistress [End] (only on Wattpad)
  • gefa figuran novel (sudah terbit)
  • Essentialy Love (SELESAI)
  • LALA
  • The Silent Invasion (END)
  • Twinblossom
  • Matahari
GHAVARI

Sejak awal, Ghava tidak pernah membayangkan namanya akan berdiri di depan barisan OSIS, memakai jas hitam dengan logo sekolah di dada. Ia anak yang lebih suka duduk di belakang, bercanda dengan teman, dan pulang tepat waktu untuk sekedar berlatih basket. Semuanya berubah karena satu formulir pendaftaran yang diisi diam-diam oleh temannya. "Biar seru aja Va. Masa OSIS isinya orang itu-itu lagi," ujar temannya kala itu, sembari tertawa dan menyerahkan berkas itu ke panitia tanpa sepengetahuan Ghava. Ghava mengira itu hanya lelucon. Sampai hari pengumuman. Nama Ghava Adimas Praharja tercetak paling atas. Terpilih sebagai Ketua OSIS periode ini. Bukan karena visi misi. Bukan karena pidato yang menggelegar. Tapi karena keisengan temannya yang berujung tanggung jawab besar. Di minggu-minggu pertama, Ghava kewalahan. Rapat yang tak ada habisnya, proposal yang harus dikejar deadline, acara Porsema yang menuntut dia turun langsung sebagai pemain basket sekaligus penanggung jawab supporter. Ghava Adimas praharja benar-benar merasa sial. Karena bagaimanapun juga, pada awalnya dia pun membiarkan saja. Dia yakin, bahwa siswa siswi SMA 28 tidaklah mungkin memilihnya? Namun, kenyataannya membuat Ghava stress sendiri. *** "Mana ada kingkong seganteng gue?" Ghava menyugar rambutnya sok keren yang sontak membuat araf yang berada di sampingnya menjambak rambut pemuda itu. "Sakit bangs*t!!" Umpatnya "Shutt up! Ketua OSIS ngga boleh mengumpat, harus jadi contoh dong buat kita-kita" syaheer menyahut sembari cekikikan, tentunya disusul yang lain. Mereka begitu senang menjahili Ghava yang memang sedikit sensi. "Tai!! setan Lo semua! Keluar aja sana!! Gue ngga butuh teman kayak kalian!" *** "Gue rasa, pertemanan kita sampe sini aja," Ghava berujar, air mukanya menunjukkan keseriusan. "Apa va?? Ngga denger gue?" Syaheer pura-pura melebarkan telinganya. Ghava menghela nafasnya "Kita temenan sampe sini aja" ucapnya lagi dengan suara yang lebih keras.

More details
WpActionLinkContent Guidelines