Jurnal Awan

Jurnal Awan

  • WpView
    Reads 251
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 4, 2023
Assalamualaikum. Saya Awan. Tapi bukan awan yang berada di langit.. Eh, jap... awan memang bukan berada di langit.. tapi berada di bawah langit dan di atas bumi. Itu bukan saya. Saya adalah Awan yang berada di muka bumi. Saya tahu hambar. Sorry. Jadi apa yang saya ingin sampaikan di sini? Mengapa saya lahirkan ruangan ini? Walaupun saya tidak ada rahim untuk melahirkan apa-apa..Oh, hambar lagi! . . Saya suka menulis. Bahkan sejak kecil lagi saya memang sangat suka menulis. Entah dah berapa banyak puisi yang saya pernah karangkan yang kini entah di mana letaknya puisi-puisi itu. Hahaha.. Terlalu banyak buku yang pernah digunakan untuk menulis setiap idea yang ALLAH pernah hadirkan dalam minda ini. Rasa agak rugi juga sebab tidak menggabungkannya lebih awal. Jadi saya wujudkan ruangan ini agar tidak hilang lagi puisi-puisi dan catatan itu. . Lagipun, hidup saya stres. Saya perlukan ruang untuk memuntahkan apa yang membelenggu hati saya. So.... catatan dalam jurnal ini akan bersikap rawak. Bahasanya juga impromptu. Hadap je lah kalau nak. Mana tau boleh jadi nasihat untuk diri sendiri juga kan?
All Rights Reserved
#49
trauma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE ONE [C]
  • PELOBATIDIA
  • You're mine (on going)
  • MUHASABAH CINTA
  • Kerana janji
  • 𝐌𝐚𝐰𝐚𝐫 𝐔𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐇𝐮𝐦𝐚𝐢𝐫𝐚
  • ZAYD GHIBRAN ||©

Warning ❗️ •Typo dan penanda wacana bersepah sebab tak edit lagi. Baca lah dulu yang versi typo ya. Maaf. •Kena baca Eternity Love dulu baru faham jalan cerita ni nanti 😘 •Macam biasa, jangan letak expectation tinggi sebab plot cerita ni cliche sangat 🤭 Dari cinta monyet bertukar jadi cinta pertama. Dia percaya kalau cinta monyetnya itu akan menjadi yang pertama dan terakhir untuknya. Siapa sangka mereka akan bertemu kembali. Adelia mula menunaikan janjinya. " Hai Kekanda, miss me? " - Tengku Adelia Hannani Adelia mula merangka rancangan untuk mengikat kekanda yang dia tunggu selama ini. "Wa lā taqrabuz-zinā innahụ kāna fāḥisyah, wa sā'a sabīlā " - Nazeem Zulfaqar Tersentap? Tidak! Adelia, semakin dilarang semakin mendekat. Baginya, sekeras-keras kerak nasi, direndam akan lembut juga. Begitu juga dengan hati kekandanya itu. " Jangan tolak sangat kekanda, takut tersungkur ke hati adinda " - Tengku Adelia Hannani " Ni baju umur 5 tahun ke? Sendat macam nangka busuk. Sakit mata aku tengok. Badan tu kalau cantik nak tayang, tak apa juga " - Nazeem Zulfaqar Sakit mata? Tak ada masalah. Adelia boleh mengubah penampilannya demi kekandanya. " Cantik tak adinda? Elok tertutup dengan telekung ni. Memang confirm tak nampak apa dah. Semua dah tertutup demi kekanda " - Tengku Adelia Hannani Wanita itu, ada saja cara untuk counter balik sehingga Nazeem mati akal. Mampukah Nazeem pertahankan tembok yang dibina untuk menolak Adelia yang agresif mengejarnya itu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines