The Arla
  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 14, 2023
"Gini ya dapet suami spek gus?, sayangnya dingin kayak kulkas seribu pintu" -Nayla zahra al-kahfi Seorang nayla di jodohkan dengan seorang gus, apakah mungkin?, mungkin dong apa yang gak mungkin bagi arfa. Seorang ustad muda sekaligus gus yang di jodohkan dengan nayla, gadis tomboy yang tidak mau di jodohkan, terpaksa menerima perjodohan tersebut lantaran paksaan kedua orang tuanya. Sayangnya sifat Nayla dan juga arfa sangat bertolak belakang, arfa yang sangat cool dan irit bicara terpa%ksa harus banyak bicara semenjak menikah dengan Nayla, Nayla dengan sifatnya yang judes dan cerewet mampu mencairkan banyaknya batu es yang ada di kulkas arfa, hati arfa maksudnya hehe. "Semenjak sama kamu saya jadi banyak bicara, pegel tau" "Yaudah jangan bicara diem, dengerin aja, susah emang hah?! " "Gimana saya mau diem? Kamu cerita udah saya dengerin, gak saya bales marah giliran saya bales marah" "Gimana gak marah gus aja balesnya pake kata "iya" aja, ngeselin tau gak? " Udahh berantem mulu ni orang bedua, nanti saya musnahkan dari dunia fiksi tau rasa kalian Btw jangan panggil author panggil ivii aja Ig ivii : astrophile_me_13
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Albel
  • Bersamamu Halalku √
  • My Ice Prince
  • Diary Ayra: Cerita Cinta SMA
  • Crazy Marriage
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • GILANG ABRAHAM
  • ISTRI GEN -Z

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines