XION AKILRAY

XION AKILRAY

  • WpView
    Reads 32,997
  • WpVote
    Votes 1,626
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 6, 2023
"Gw gak akan biarin lu bahagia dengan keluarga angkat lu"Xian menampilkan smriknya di Depan semua murid "Sampai kapan hah,andai dulu gw gak sebodoh itu yang mau bertukar peran demi lu ikut olimpiade, ngerjain tugas tugas sekolah lu,ngebantu lu yang di keroyok musuh sialan lu itu yang buat gw berakhir di pukulin pria tua Bangka itu,lu mau sampe kapan yan ngeliat gw menderita gw udah relain semua demi lu,mau lu apa sih hah"bentak Xion yang nada bicaranya mulai meninggi "Gw mau lu di benci semua orang,lu tuh gak ada apa apanya di banding gw, lu cuma anak penyakitan yang tidak di inginkan keluarga,lu pantas mati Xion lu gak berguna"bentak Xian yang masih terkulai lemas HAII INI CERITA PERTAMA YANG GW BIKIN,MAAF KALO MASIH BANYAK TYPO SOALNYA GW BARU BELAJAR.... MAAF KALAU BANYAK KATA KATA KASARNYA.... SELAMAT MEMBACA....
All Rights Reserved
#54
bothership
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • [BL] I LOVE THE KING DEVIL (Buku 1)
  • ALDRIC [END]
  • Ayesha Transmigration
  • AYKARLAND
  • FIGURAN GIRL ( LENGKAP )
  • ✔ Cinta Yang Aneh
  • light from the darkness||LOOKISM
  • [bl] Harusnya aku menjadi gong bukan shou
  • Darkness Crystal: BBB Fanfic [✓]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines