KENANGAN & TRAUMA [END]

KENANGAN & TRAUMA [END]

  • WpView
    Reads 702
  • WpVote
    Votes 148
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadComplete Wed, May 21, 2025
Book 2 Memilih untuk menjaga jarak bukan berarti hati ini tak pernah jatuh. Memilih untuk tidak berpacaran bukan berarti aku tak mengenal rasa suka atau cinta. Hanya saja, aku memilih untuk tak membiarkan pikiran ini larut dalam hal-hal semacam itu. Ketika banyak teman-temanku di luar sana memilih menjalani kisah cinta, aku lebih memilih menjaga diri dari hubungan seperti itu. Bukan karena hatiku tak pernah terpaut pada lawan jenis, tetapi karena luka yang ku tanggung terlalu dalam. Trauma ini mengajarkanku untuk menjauh-menjauh dari laki-laki yang memberikan harapan hanya untuk kemudian meremukkannya. Mungkin ada laki-laki di luar sana yang mampu menyembuhkan luka ini, menghapus jejak trauma yang mengikatku. Tapi, akankah dia benar-benar ada?
All Rights Reserved
#507
perempuan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • (End) Ketika Hanya Hati yang Saling Bicara
  • ANTARA DOA DAN RASA
  • The Bleeding Lady [completed]
  • AGASTYA [ END ]
  • Saat Cinta Tak Terucap
  • MENDEKAP RINDU
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • TAK BERSAMBUT

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines