37 partes Continúa Keyla tahu betul bedanya fiksi dan realita. Di novel, tatapan mata hazel itu berarti cinta. Tapi di dunia nyata, bagi Haksa Adistira, tatapan itu mungkin hanya sekadar keramahan biasa, sama seperti caranya tersenyum pada ibu kantin atau menyapa semua perempuan di kampusnya.
Berawal dari pertemuan tak sengaja di pojok toko buku, Keyla terjebak dalam labirin perasaan. Haksa itu hangat, tapi kehangatannya dibagi ke semua orang. Haksa itu perhatian, tapi perhatiannya tak pernah eksklusif.
Di saat orang ketiga mulai ikut campur, Keyla tersadar, apakah dia memang pemeran utama di hidup Haksa? Atau cuma salah satu pembaca di antara kerumunan penggemar laki-laki itu?
"Kak, jangan bikin aku merasa istimewa kalau cara kakak menatapku sama saja dengan cara kakak menatap dunia."