Gemuruh Merah

Gemuruh Merah

  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 20, 2025
WpInfo
Fiction
Science Fiction
BUKU "1" SERIAL *SEEKER* "Kota ini sudah terlalu kotor," kata Guntur. Selepas melanggar janjinya pada sang guru, Guntur terjurumus semakin jauh dalam masalah. Ia yang awalnya hanya berniat untuk memberi pelajaran pada para begal yang tak kenal kapok, kini harus menuai konsekuensi perbuatannya. Musuh-musuhnya mulai menyakiti orang-orang di sekitar Guntur. Sekarang Guntur hanya punya dua pilihan: Menyerah dan hancur, atau terus melawan dan memberantas kejahatan sampai ke akar-akarnya. Tanpa Guntur sadari, amarah yang menguasainya perlahan mengubahnya menjadi orang yang sama dengan para penjahat yang sangat ia benci. Dan ia pun kehilangan semua hal yang ingin ia lindungi.
All Rights Reserved
#163
keadilan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • MENGAPA HARUS AKU?
  • Rains In Heaven (Huang Renjun)
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • The Nightmare Stories (Completed)
  • A Certain Virtual Black Swordsman Book II: Project Progress
  • ALZEA
  • Rahasia yang Terkubur
  • GILANG [END]
  • Bandung Dan Kisah Yang Belum Usai

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines