Clarayan

Clarayan

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 2, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Seorang anak kecil yang terlihat sedang menangis sendiri didepan danau kecil membuat seorang anak kecil satunya lagi menghampirinya. "Pesss", bunyi permen karet mengagetkan anak kecil itu. "Heheheh, sorry. Kamu kenapa?, Kok nangis", tanya anak kecil tadi sambil duduk disamping anak kecil yang menangis. "Hiksss...huhuhuhuu", anak kecil itu tidak menanggapi dan tetap saja menangis. "Heyyy, jangan nangiss", pintanya "Kenapa semuanya jadi seperti ini, hikss". Ucap anak kecill itu. "Ku mohon jangan nangis, kamu kan cowok, masak jadi cowok cengeng kok, cemeen", jelas anak itu. Anak kecil yg satunya melirik sekilas. 'iiiyaa, aku GK nangis lagi kok" "Nahh gitu dong jadi cowok itu harus kuat gak boleh cengeng masak kalah sama aku yang cewek", jelas anak itu
All Rights Reserved
#78
scholl
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Me and Mr Perfect [ON GOING]
  • Serendipity || S2 MOMMY? | End
  •  ALZERA (On Going)
  • DIANA IS MINE (COMPLETED)✔
  • Mommy ; markhyuck [end]
  • Alisa's Story
  • LAST FIGHT  FOR HIM | | 𝑺𝒀𝑨𝑸𝑬𝑳𝑳.
  • Terima kasih dan maaf

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines