Sujud Terakhir Sofia

Sujud Terakhir Sofia

  • WpView
    Reads 87
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 13, 2023
Tidak mudah menjadi seseorang yang di pilih tuhan untuk menjadi pemeran utama dalam sebuah takdir yang pelik. Tidak mudah menjadi seseorang yang selalu salah dalam mencintai. Tidak mudah menjadi seseorang yang sabar dalam penantian. Aku bukanlah wanita sekuat Zainab binti Muhammad yang rela mencintai dan mengorbankan seluruh hidupnya untuk Abdul ash bin rabi. Dan aku bukanlah wanita se shalihah Ummu Sulaim yang mampu merubah abu thalhah menjadi seseorang yang shaleh dan taat terhadap syariat. Aku hanya wanita biasa yang pada akhirnya hanya bisa menyerah. Dan jika aku boleh memilih takdir aku lebih ikhlas jika tuhan tidak pernah menuliskan takdir aku bertemu denganmu
All Rights Reserved
#302
menikah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Tunduknya Senyuman
  • MENJAGAMU LEWAT DOA
  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Assalamu'alaikum Kekasih Impianku [END]
  • Kupinang Kau Dengan Sholawat (END)
  • Takdir Mempersatukan Kita (TAMAT)
  • Ikhlas Bersamamu |END|✓
  • Skenario Allah yang Terindah (END)

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines