my teachers my crush

my teachers my crush

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 1, 2023
" ANESKAAA " " ehh, bapak lagi apa " ucap aneska dengan gugup " jam berapa sekarang, hmmm " " hehehe jam 07.30 pak " ujar aneska dengan polos " jadi tahu sekarang kesalahan kamu apa " ucap guru tersebut sambil menahan kesal kepada muridnya itu " hehehe telat pak " nyengir aneska dengan watadosnya " bersihin sampah yang ada di lapangan utama " " tapikan pa..." ucapan aneska terpotong " gak ada tapi tapian " kesal guru tersebut " iya pak " ucap aneska dengan lesu " ngapain kamu masih disini " " ehhh sekarang pak " kaget aneska " tahun depan, ya sekarang aneska " aneska yang melihat sang guru mulai kesal langsung kelapangan utama " ehhh siap pak " teriak aneska gelagapan sambil berlari ke lapangan utama " Huh dasar anak muda jaman sekarang " gumam guru tersebut sambil menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah laku muridnya yang unik itu
All Rights Reserved
#9
schools
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Teacher Pet's : Brothership
  • BK VS BAD GIRL {END} ✓
  • 𝐎𝐀𝐒𝐈𝐒 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐈𝐊𝐈𝐒?
  • ★BABY ZION★
  • RESURGERE: The Andalas of Nusan [CH]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Forever Friends ( End )

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines