Budak dalam Sebuah Garis Takdir [END]

Budak dalam Sebuah Garis Takdir [END]

  • WpView
    Reads 403
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 40
WpMetadataReadComplete Thu, May 23, 2024
WpInfo
Poetry
Perjalananku belum selesai, walau perahu sesekali menepi. Tidak jarang orang ingin menduduki, tetapi takdir selalu berbalik. Dari sudut dermaga itu, aku merintih luka-lukaku sendiri. Aku tidak akan percaya takdir, sebelum nasib hidupku mereka tangisi. Budak dalam Sebuah Garis Takdir, Happy Annisa.
All Rights Reserved
#63
diterbitinclover
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Selamat Tinggal
  • Rude Beautiful Girl [Sudah Terbit]
  • Filosofi Semesta (COMPLETE)
  • Karena Kamu Rumahnya
  • GRIZLEN {On Going}
  • JUST BE MINE [END]
  • CERPEN (END)
  • Elegi Roman Remaja
  • 10 Detik, Goodbye!

Beberapa luka tak berdarah, tapi mengalir seumur hidup. Samantha Aksa tumbuh dalam rumah yang sepi, diiringi senyap gitar yang tak lagi bersuara, dan kenangan ayah yang pergi sebelum sempat dimaafkan. Ibunya menyerah pada duka, meninggalkannya bersama sunyi yang tak pernah ia minta. Lalu hadir Bu Dina-seorang guru dengan tatapan yang mengingatkan pada masa lalu, dan Luna-sahabat lama yang kembali seperti musim yang enggan pergi. Di antara balkon sekolah, langit jingga, dan nyanyian yang tak rampung, Sam berusaha memungut dirinya sendiri, yang tercecer di antara kehilangan dan harapan. Ini bukan tentang cinta semata, atau tentang musik yang kembali dimainkan. Ini tentang perjalanan berdamai: dengan masa lalu, dengan orang-orang yang tinggal lalu pergi, dan terutama... dengan diri sendiri. Karena tak semua kehilangan harus dilupakan. Beberapa hanya perlu diberi nama, dipeluk, dan akhirnya-dilepas, pelan-pelan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines