Lirih Puisi Si Bungsu

Lirih Puisi Si Bungsu

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 25, 2023
"Ara juga punya mimpi! Ara pengen kaya temen-temen Ara yang bisa kejar mimpi mereka!" nafasnya tersengal mengeluarkan segala amarahnya. "Ara pengen juga kuliah, main sesuka hati Ara. Bahkan jalan-jalan ke luar kota. ketemu orang baru, punya temen baru." Air mata sudah tak dapat dibendungnya lagi. Tangisnya pecah dihadapan cermin, didalam kamar hotel yang disewanya malam itu. "Baju ara jelek, gak kaya punya temen-temen yang cantik. bahkan muka Ara juga jerawatan. Jangankan pacar, temen cewek aja pada jiji sama aku!" Rambut lurus panjangnya Ia jambak dengan kasar, "Aaaaaaargh!!! Ara capeeeek, Tuhaan!!!!" malam itu, Ia hanya menangis hingga berakhir tertidur karena kelelahan.
All Rights Reserved
#114
putusasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • Tell Me It's Okay !!! (END✔)
  • Tertanda Dosenmu (Complete ✓)
  • INNER
  • DISA | broken
  • My Name is SYANARA (COMPLETED)
  • Two Side

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines