Number 505

Number 505

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 28, 2023
Soal cinta luar biasa. Lama-lama bisa gila. Potongan lirik lagu itu sukses merepresentasikan betapa peliknya urusan cinta. Cinta itu bak buah simalakama, kita tak bisa menuntut orang lain untuk balik mencintai kita setulus yang kita lakukan. Itulah kalimat mantra sakti mandraguna yang kerap kali Adhia tanamkan saat ia terpesona pada lelaki tampan yang hatinya masih tertaut pada almarhumah adiknya. Sekeras apa pun mencoba, Adhia selalu gagal melepaskan perasaan yang bergejolak di hatinya. Meski sebuah tragedi masih belum usai dibahas tentang rumor kematian sang adik yang memiliki keterkaitan dengan lelaki itu. Kembali lagi, cinta menjadi buah simalakama baginya. Satu sisi ia begitu mencintai lelaki itu, tetapi di sisi lain ia bertekad harus menangkap pelaku yang bertanggung jawab atas kematian adiknya. Apakah Adhia sanggup mengesampingkan rasa dan fokus pada tujuannya? Atau justru berpikir untuk menyerah dan menutup kasus itu segera? Lalu, apakah sudah benar terbukti bahwa lelaki itulah pembunuh adiknya sendiri?
All Rights Reserved
#674
bunuhdiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • Loose Cannon
  • Dear Aisyah
  • Menjaga Monster
  • Abidzar
  • Dark School 2022
  • Trauma Is Real
  • Zero-sum Love [FIN]
  • Janji Seribu Bulan ✓

"Yang nggak pernah benar-benar selesai, justru yang paling susah dilupakan." - Nayyara Tujuh tahun. Itu waktu yang Nayyara habiskan untuk mencoba sembuh-dari luka yang bahkan tak sempat diberi penutup. Luka yang diam-diam ia bawa sejak bangku kuliah kedokteran, hingga kini menyandang gelar spesialis. Luka bernama Adrian Baskara-mantan yang pergi tanpa kata, tanpa perpisahan. Hanya hilang. Begitu saja. Sialnya ketika ia merasa telah pulih, semesta mengajak bercanda. Sebuah mutasi mendadak menjatuhkannya dari puncak karier di rumah sakit elit Jakarta ke pelosok desa di Jawa Tengah. Desa asing yang lebih percaya ramuan dukun ketimbang resep dokter, lebih patuh pada mitos ketimbang medis. Nayyara datang sebagai penyintas-asing, tersesat, nyaris patah. Tapi ia bertahan. Ia belajar hidup dari nol. Ia kira, itu sudah cukup berat. Sampai... Adrian muncul. Kini pria itu berdiri di hadapannya-dengan senyum sabar, tatap mata yang dulu menenangkan, dan seorang anak kecil yang tak sengaja memanggilnya, "Ayah." Nayyara ingin pergi. Meninggalkan desa ini. Menjauh dari kenangan yang kembali bernyawa. Tapi hati bukan peta yang bisa digariskan lurus-lurus saja. Luka lama belum sembuh, rahasia lama belum selesai. Dan pertanyaan itu terus menghantui: Kenapa Adrian pergi tanpa pamit dulu? Dan... kalau cinta yang lama mati ternyata belum benar-benar terkubur, bisakah Nayyara mencintai lagi-tanpa takut patah untuk kedua kalinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines