Digar
  • WpView
    Reads 330
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 26, 2023
Ini cerita lama yang saya upload lagi!! Pada hal yang harus terjadi dan akan dilewati dengan sebuah perjalanan sebagai sarana bagaimana akhir dari segala kejadian yang tidak pernah diinginkan. Bagaimana melewati hari dengan kaki sendiri tanpa sapaan dan belaian hangat orang tua dan berusaha melewati semua itu demi diri sendiri dan keluarga. Lalu ketidakpedulian saudara yang membuatnya kembali harus benar-benar sendiri, dan mencoba membuat dunia dan kepribadian lain untuk menjaga kerapuhan di hatinya agar tetap kokoh. Tentang seorang anak laki-laki yang tidak banyak tingkah, hidupnya biasa saja namun juga tak terlalu biasa. ia hanya bisa menyayangi tapi tak bisa membenci, baginya orang yang mengganggunya adalah orang terpeduli pada hidupnya. Digaraldi Austin Pratama "Kenapa nggak lu aja yang mati." "Kenapa?" Lirih Digar Digar percaya semua cobaan yang diberikan Tuhan tidak melampaui batasan umatnya. Digar percaya semua akan berakhir pada waktunya.
All Rights Reserved
#7
sickmalelead
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Silent Phase [END]
  • GAVILEON [END]
  • Full Of Scratches
  • Our Rean Sada -End-
  • ALEYA~~
  • Deberìa Redirme? (End)
  • Haruskah Mati? √PART LENGKAP [TERBIT]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines