A sins
  • WpView
    Reads 232
  • WpVote
    Votes 64
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 18, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Cerita dimulai dengan cuplikan misterius di Jakarta-seorang pria berdarah dan terluka yang berjalan dengan sepatu robek, disertai dengan peringatan seorang wanita pirang tentang "tempat para pembunuh." Adegan ini menyiratkan adanya kekerasan yang belum terpecahkan dan membawa nuansa ketidakpastian. Kehidupan di SMA B4, Surabaya Kisah kemudian berpindah ke SMA B4 di Surabaya pada tanggal 7 April 2024. Di sekolah multikultural ini, para murid bersiap menjalani hari yang tampak biasa. Kehidupan sekolah yang biasa tiba-tiba berubah drastis ketika di tengah pelajaran terjadi serangkaian ledakan dan kekacauan. Suasana berubah menjadi arena pertarungan maut ketika sebuah suara misterius dari podium mengumumkan aturan mengerikan: setiap lima menit, jika lima benda rahasia yang tersembunyi tidak ditemukan, seorang murid akan mati. Stopwatch hologram muncul sebagai penanda waktu, dan kekerasan mulai merajalela-dengan murid-murid saling mencurigai, bertarung, dan banyak yang tewas dengan cara yang brutal. para murid terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berebut benda misterius. Awan, yang semula pendiam, bertransformasi menjadi sosok yang menghasut. Dengan delusi bahwa semua ini hanyalah "permainan rekayasa" oleh para orang kaya dengan teknologi canggih, ia memanfaatkan sebuah benda bulat berkilauan yang, menurut keyakinannya, dapat mengendalikan kematian sesuai keinginannya. Sementara itu, Emely yang masih baru dan rapuh, terjebak dalam ketakutan dan kebingungan, menyaksikan perubahan drastis Awan dan tindakan kejam di sekelilingnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • rahasia dibalik kasus lama
  • Jejak Di Lorong 4A
  • Mystro {On Going}
  • LEVEL (Easy)
  • Langit Hijau
  • Little Utaite and Their School [END]

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines