SARANTHA

SARANTHA

  • WpView
    Reads 2,417
  • WpVote
    Votes 862
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 19, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
"Jika diam bisa melindungi seseorang, maka aku rela jadi bisu seumur hidup." "Mama ga suka kamu main sama anak itu. Kalau kamu masih maksa, jangan harap bisa keluar rumah lagi!" Tapi anak kecil perempuan itu tetap pergi. Diam-diam, seperti biasa. Karena hanya dengan anak laki-laki itu, ia bisa tertawa lepas, merasa aman, dan didengar. Hari demi hari, mereka bermain bersama, membuat dunia kecil mereka sendiri yang penuh imajinasi dan rahasia. Tapi semuanya berubah ketika rumah anak itu tiba-tiba dijual. Tak ada kabar. Tak ada pamit. Hanya sunyi yang tertinggal. Suatu sore, ia berdiri di depan rumah itu-yang kini sepi dan tak berpenghuni. Di sana, tersembunyi di sudut lantai kayu yang mulai lapuk, ia menemukan sebuah kotak kecil. Usang. Berdebu. Tapi familiar. Anak itu membukanya, lalu...
All Rights Reserved
#18
alternativuniverse
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Resital Sunyi (End)
  • The Immortal's Undoing
  • A R S E A N A
  • The Bleeding Lady [completed]
  • MAID IN LOVE - BECKFREEN [SELESAI]
  • A Place Called Home
  • The Apartment [END]

Ada cinta yang dikejar bukan karena jiwanya menyentuh, tapi karena citranya menjanjikan kesempurnaan. Ada yang dipilih bukan karena diinginkan, tapi karena hadirnya memudahkan. Sebagian hati hadir bukan untuk dimiliki, melainkan menjadi tempat singgah dalam badai yang tak kunjung reda, lalu dilupakan saat matahari kembali menyapa. Dan ada pula hati yang tak bersuara, menunggu dalam senyap, memanggul rindu tanpa jaminan akan menjadi tempat pulang. Hati yang tak pernah ditanya, tapi selalu ada; menjadi rumah bagi seseorang yang tak pernah ingin tinggal. Lucunya, cinta tak pernah paham logika. Ia tak memilih yang pantas, tak menetap pada yang layak. Ia berdiam di tempat yang paling retak, tumbuh di antara luka-luka yang belum sempat sembuh, menjadikan harapan sebagai candu untuk bertahan. Ini bukan sekadar cerita tentang cinta yang tak terbalas. Ini tentang jiwa yang rela menjadi persinggahan dalam hidup orang lain, meski ia diciptakan untuk menjadi rumah. Tentang keberanian mencintai tanpa pamrih, tentang ketulusan yang tak meminta kembali. Karena mungkin, dalam dimensi cinta yang paling sunyi, hadir, meski tak dianggap, lebih bermakna daripada pergi tanpa sempat menyentuh. - "Lo tuh bukan yang gue mau, Bun. Lo cuma yang kebetulan ada pas gue hancur." -Lautvianar "Gue tau gue cuma pelampiasan. Tapi lo tau yang lebih nyakitin? Bahkan buat nyakitin, lo masih butuh gue." -Embunara

More details
WpActionLinkContent Guidelines