Popularity (END)

Popularity (END)

  • WpView
    Reads 3,058
  • WpVote
    Votes 370
  • WpPart
    Parts 37
WpMetadataReadComplete Sun, Aug 3, 2025
Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bintang pelajar, bergabung menjadi anggota OSIS, dan sebagainya. Mereka benar-benar gila dengan ketenaran. Salah satunya, Livia Stephanie Maheswari. *** "Lo nggak tau, gimana rasanya terabaikan! Gue hidup, tapi nggak terlihat! Lo nggak pernah tau, karena lo nggak pernah ngerasain itu! Lo tenar karena keluarga lo donatur sekolah. Tanpa itu, lo juga cuma ... LOSER." Livi memandang remeh ke arah Zavas, membuat rahang pria itu mengeras. "Yes, Babe. Ucapan lo bener," jawab Zavas dengan suara seraknya. Mendengar itu, membuat jantung Livi tidak aman. Namun, dia masih berusaha untuk terlihat cool. "Gue tenar emang karena orang tua gue. Tapi apa gue haus ketenaran? Gue nggak kayak lo. Dan perlu lo tau, tanpa lo sadari, lo sendiri yang LO-SER." Kini mata Livi sudah memanas, tangannya mengepal kuat. Sebelum Livi meneteskan air matanya, Zavas sudah pergi lebih dulu, meninggalkan Livi yang berusaha keras membendung genangan air mata itu. *** "Oke, satu-satunya cara, gue harus deketin dia buat bikin nilainya hancur."
All Rights Reserved
#77
idakad
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • SAMUEL AND SAMANTHA  : TROUBLE COUPLE SERIES 0.1
  • GADIS (Lengkap belum revisi)
  • Fake Nerd
  • THE NEW GIRL 2: ILLUSION [SELESAI]
  • Arsyilazka
  • SamLova [Terbit]
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • SERAVA
  • TAFIA'S TEARS

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines