Harapan untuk Asha

Harapan untuk Asha

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 25, 2023
Pertanyaan "Kapan menikah?" adalah pertanyaan yang paling menyebalkan untuk Asha. Setiap pertemuan keluarga, hanya pertanyaan itu yang dia dapat. Karena kedua kakaknya sudah menikah, terlebih lagi adiknya yang melangkahi Asha untuk menikah duluan. Awalnya dia masih menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan santai. Namun, lama-kelamaan dia pun akhirnya bosan dan akhirnya memilih untuk mengabaikan semua pertanyaan tersebut. Dengan saran dari sang sahabat, Asha akhirnya menemui seorang psikolog untuk menyembuhkan trauma di masa lalu. Harapan Dzuhairi Sanjaya merupakan psikolog yang menangani keluhan Asha. Setelah beberapa kali bertemu, Asha mulai nyaman bercerita kepada Apan. Begitu pun dengan Apan yang semakin tertarik untuk dapat menyembuhkan trauma Asha di masa lalu. Saling nyaman adalah awal dari kisah cinta yang akhirnya sepakat untuk mereka rajut, tanpa adanya keraguan. Akankah mereka dapat bersatu dan menyempurnakan separuh agama mereka? ataukah hanya salah satu dari mereka yang akhirnya menemukan kebahagiaan?
All Rights Reserved
#456
patahhati
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • Shanaya dan Pria di Antara Senja
  • ASA: Semesta Itu Bukan Milik Kita
  • Prenuptial Agreement
  • PAK DOKTER (TERBIT)
  • Syafaat Cinta (Heal You Love You)
  • My Childish Wife [TAMAT]
  • Benang Takdir Azalea
  • Tiba-Tiba Nikah

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah

More details
WpActionLinkContent Guidelines