"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan.
Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga,"
"Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja minta bantuan bokap. Ke pemerintahan pula." Lanjutnya menyadarkan ku dari fakta menyedihkan ini.
"Kok belum punya pacar kak?"
"Kak, kriteria pacarnya yang kaya gimana?"
"Spill tipe idealnya dong kak ..."
Aku sudah terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Pertanyaan yang harusnya tidak lagi ditanyakan, yang sayangnya malah terus terulang dalam setiap kali live yang aku lakukan di instagram.
Aku mencoba tetap tersenyum setelah membaca salah satu pertanyaan dari penonton live, sembari diam-diam melirik ke arah belakang ponselku untuk melihat seorang laki-laki tampan yang kini sedang duduk dan menatap ke arahku juga.
"Mas... kapan mau go publik?"