"Kamu tahu di usia berapa ibumu melahirkan kamu?"
Thesa tahu. Namun, ia memilih untuk mengunci mulutnya rapat.
"Delapan belas tahun." Opa menjawab dengan raut datar. "Di usia semuda itu dia sudah berani jadi pembangkang. Akibat dari itu masa depan ibumu hancur karena kesalahannya sendiri. Jadi, kamu sebagai anaknya jangan berani melawan saya kalau tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Mengerti?"
***
Seumur hidup Thesa tinggal di rumah opanya bersama oma tirinya. Dia tidak punya sosok ayah, tapi ibunya masih hidup. Wanita itu tidak pernah berada di sisinya sedari kecil. Namun, Thesa paham mengapa ibunya pergi. Dia hanyalah anak di luar nikah, apa pentingnya eksistensi Thesa dalam hidup sang ibu?
Dan ketika opanya berusaha belajar dari masa lalu, tanpa sadar pria tua itu malah membawa Thesa ke jurang yang lebih dalam. Melangsungkan pertunangan demi menghindari kesalahan yang sama justru tidak membuat segalanya lebih baik.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kata pria itu.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun ia harus bertunangan. Thesa tidak punya keberanian untuk melawan sang opa yang sudah merawatnya sejak kecil.
Sementara sedari dulu diam-diam Thesa menyimpan perasaan kepada Gamaliel, teman masa kecilnya. Bertahun-tahun perasaan itu terpendam, nyatanya semakin dalam hingga Thesa sendiri tidak tahu apakah ada jalan keluarnya.
Lantas ketika pertunangan itu terlanjur berlangsung, apakah Thesa mampu menjalaninya?
12/05/23
Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ?
Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan?
Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu.
Kehangatan berubah menjadi kepedihan.
Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan.
Aku tidak iri, sungguh.
Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang.
Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh?
Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja.
Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku.
Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan.
Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.