AKU BULAN
  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 11, 2023
-Awal yang sempurna, bukan berarti akhir yang sempurna. Begitu juga sebaliknya- Pernah bukan merasakan tidak mendapatkan kasih sayang dan keadilan dari orangtua? Begitulah Bulan. Selalu Kakak lelakinya saja yang mendapatkan haknya dirumah. Selalu Devan. Pernah merasakan jatuh cinta? Jatuh cinta, jika hanya satu orang yang menjatuhkan hatinya, maka ia akan jatuh sedalam dalamnya tanpa ada satupun yang menolongnya. Dan, apakah itu masih disebut "jatuh cinta"? Bulan dan Bumi, satu kesatuan yang tidak bisa dipungkiri bahwa mereka sangat penting bagi makhluk hidup. Bumi yang dibutuhkan untuk para makhluk hidup dan Bulan yang dibutuhkan makhluk hidup untuk menyinari malam yang begitu gelap. Satu kesatuan yang tak akan pernah bisa dijauhkan. Tetapi, jika Bulan dan Bumi sangat berguna dalam kehidupan, Bagaimana dengan Matahari? Bagaimana dengan Angkasa? Baca ceritanya lebih lanjut. copyright ®puppyes.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Mentari Tanpa Sinar
  • I Told the Moon about You
  • Langit dan Cahayanya
  • Alaskar dan Bulan
  • Bumi Cahaya Lukka {BCL}
  • My Beloved Enemy
  • " BYE "
  • BULAN [END]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines