Di hari pertama sekolah, Yuki duduk di pojok kelas, nunduk, nggak ngomong. Nggak senyum. Nggak nanya. Nggak nyapa. "Autis," bisik temen-temen. Lalu jadi lelucon. Dia nggak ngerti kenapa mereka ketawa pas dia nggak ngerti giliran baca. Nggak ngerti kenapa mereka narik kursinya waktu dia mau duduk. Nggak ngerti kenapa semuanya kayak berlomba-lomba bikin dia salah. Tapi yang bikin gue ngeri - dia nggak pernah marah. Yuki cuma diam. Setiap hari. Sampai akhirnya, dia ngomong ke gue. Pelan. Kaku. Kayak takut. "Kamu... nggak jijik?" Gue nggak tahu harus jawab apa. Karena sejujurnya - gue telat sadar. Ini bukan cerita tentang jadi pahlawan buat orang kayak Yuki. Ini cerita tentang gue... yang diem aja saat semua orang ngerusakin dia pelan-pelan.
More details