I'm Jay and I See

I'm Jay and I See

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 9, 2025
Di dalam sebuah kamar villa mewah yang dipenuhi layar monitor, berbagai rekaman CCTV dari rumah sakit terpampang jelas. Setiap sudut ruangan persalinan terlihat dengan detail-wanita itu, bayi yang baru lahir, hingga surat yang kini berada di tangannya. Di atas sofa empuk berwarna gelap, seorang pria duduk dengan tenang, matanya tajam mengamati setiap pergerakan di layar. Wajahnya tersembunyi di balik jaket hitam dengan penutup kepala yang menaungi bayangannya. Namun, ada satu hal yang terlihat jelas-jari-jarinya. Kulitnya begitu pucat, nyaris transparan, hingga urat-urat halus di bawahnya tampak jelas. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Dengan genggaman erat pada belati di tangan kirinya, ia berbisik pelan, suaranya sarat akan ketenangan yang mencekam. "Kau tak perlu khawatir... ini masih hidangan pembuka, Maya. dan nikmati lah hidangan pembuka ku Dok" Lampu kamar itu tiba-tiba padam, menelan ruangan dalam kegelapan total. Suara dengungan listrik yang biasa terdengar kini lenyap, menyisakan kesunyian yang mencekam. Satu-satunya sumber cahaya yang tersisa hanyalah monitor di sudut ruangan, layar berpendar redup dengan tulisan yang muncul perlahan, seolah seseorang mengetiknya secara real-time. "Mari bersenang-senang." Kata-kata itu terpampang di layar, sederhana namun menusuk. Seakan ada mata yang mengawasi dari balik layar, seakan permainan baru saja dimulai.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • in verso aeternaria
  • 00.07 WIB [SELESAI]
  • The Apartment [ END ]
  • Detective Vina
  • SCANDAL A Shocking Accident
  • BENEATH YOUR SHADOW | END
  • Ibu Susu untuk Bayi Gaib
  • Happy Ending
  •  PATAH

Langit kelabu. Sirine meraung. Rel kereta masih bergetar sisa kepanikan. Seorang wanita turun dari mobil kantor Metro 7 dengan rompi pers dan ID Card menggantung di leher. Kamera bergoyang, suara orang-orang bercampur dengan peluit petugas. Di tengah kekacauan... satu sosok berdiri tegak. Seorang pria dengan seragam masinis kusut, helm safety, dan wajah datar-sedatar-datarnya. Tangannya pegang HT, mulutnya ngasih instruksi padat ke teknisi lain. Tapi matanya... serius, tajam, dan fokus penuh. "Itu masinisnya?" bisik wanita itu ke kameramennya. "Iya, katanya dia yang sempat tarik rem darurat." Ia mengerutkan dahi. "Mukanya... ketus amat ya. Gak ada ramah-ramahnya." Biasanya kalau ketemu petugas di lapangan, mereka nyapa balik. Tapi yang satu ini? Ngelirik pun enggak. Dia jalan melewati wanita itu begitu aja. Nggak senyum, nggak angguk, cuma jalan. Dan entah kenapa, justru itu yang bikin wanita itu berhenti sejenak. Karena di balik wajah lempeng itu... ada sesuatu yang menarik. Serius. Tanggung jawab. Dan jujur. Dia nanya ke petugas, "Masinis itu siapa namanya?" "Vikram." Ia nyimak. Lalu, pelan-pelan dia buka notes kecilnya. Di halaman paling belakang, dia tulis satu nama. "Vikram - masinis lempeng, bukan kandidat jodoh settingan." Dua jiwa berjalan di lintasan yang tak pernah bersinggungan. Yang satu tumbuh dalam sorotan cahaya, bicara untuk dunia, suaranya tajam menembus layar. Yang satu lagi, hidup dalam diam dan deru mesin, menyusuri rel panjang dengan mata yang selalu awas. Dunia mereka tak sejajar- satu di menara kaca, satu di rel tanah. Tapi semesta tak peduli garis keturunan, kasta, atau nama belakang. Yang dia lihat bukan gelar, tapi keberanian. Yang dia cari bukan kemewahan, tapi kejujuran. Namun, tak semua yang saling jatuh bisa saling jatuh ke pelukan. Ini kisah dua manusia yang terlalu dalam mencintai, di dunia yang terlalu sempit untuk menampung mereka. #1 in romance #1 in culture class

More details
WpActionLinkContent Guidelines