Cerita gadis bulan

Cerita gadis bulan

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 19, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Jangan sampai kau baru menyadari bahwa telah kehilangan bulan saat menghitung bintang." kata-kata yang selalu ku ingat ketika aku lelah menghadapi dunia. Rasanya sulit untuk menjalani hari-hari dibumi, seandainya aku bisa terbang menuju bulan. Aku sudah muak dibumi! entah itu keluarga, teman, pasangan. dan uang. Hai Tuhan bisakah aku menghilang dari bumi saja?.
All Rights Reserved
#223
siksa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • fAkE
  • RUANG HAMPA (terbit)
  • Like Father Like Son
  • Broken Home
  • Galara ( Selesai )
  • BERTAHAN DEMI TUHAN
  • H I R A E T H
  • Bumi Ranah Sagara ~Tamat~

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines