We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
TACENDA

TACENDA

  • WpView
    Reads 3,304
  • WpVote
    Votes 224
  • WpPart
    Parts 69
WpMetadataReadComplete Sat, Jul 13, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Tacenda adalah segala yang dipilih untuk tak diucapkan, disimpan dalam senyap, dan mungkin memang lebih baik dibiarkan tetap menjadi rahasia. Tacenda kali ini bukan sekadar diam, melainkan kisah seorang gadis bermata teduh yang terjebak dalam epilog sebelum sempat menuliskan prolog. Gadis yang dengan teguh memeluk perasaannya sendiri, enggan memperdengarkan gemuruh hatinya kepada siapa pun. Ia memilih diam, bahkan ketika dunia memberi ruang untuk bersuara. "Jika dahulu aku mencintaimu tanpa alasan, maka sekarang aku melepaskan cinta itu dengan segala banyaknya alasan yang cinta itu berikan." Dialah Fazoya Aruna Zivara, gadis yang memandangi hidup lewat warna lilac dan mengejar makna dalam kepakan sayap kupu-kupu. Ia hidup dalam semangat yang lembut, penuh keteguhan yang rapuh. Cinta pertamanya adalah teman kecilnya-seseorang yang telah ia titipkan namanya dalam hati sejak lima tahun lalu, sebagai tokoh utama dalam skenario rahasia kehidupannya. Aruna takut. Bukan pada cinta, tetapi pada kemungkinan cintanya diketahui dunia. Ia takut menjadi cerita yang dibicarakan, dijadikan bahan tanya, atau lebih buruknya-dikasihani. Maka ia simpan segalanya. Ia belajar menerima luka, mengobati sendiri rapuh yang ia tahu akan datang suatu hari. Tapi sampai kapan kekuatan itu bertahan? Bagi Aruna, mencintainya bagaikan mengejar kupu-kupu di taman senja-semakin ia mendekat, semakin tinggi kupu-kupu itu terbang. Cinta itu bisa dikejar, tapi tak pernah benar-benar bisa digenggam. Seperti harapan yang menggantung, indah tapi menjauh. Lantas, akankah kupu-kupu itu akhirnya hinggap di jemari Aruna? Atau justru terbang semakin jauh, meninggalkan sang gadis bermata teduh dalam angin yang tak berjawab? Mari kita temani Aruna-menelusuri tiap langkahnya, menyingkap sunyi yang ia sembunyikan, hingga ia temukan sendiri akhir dari cinta yang tak pernah benar-benar mulai. ─────────ೋღ 🦋 ღೋ─────────
All Rights Reserved
#4
tacenda
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Karena Kamu Rumahnya
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • IF YOU
  • Sekali Lagi (End)
  • I AM YOURS    [ TAMAT ]
  • Antara aku dan dunia
  • TERJEBAK DALAM RASA [TERBIT]
  • CINA-CINTAKU (SELESAI)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines