ME N U
  • WpView
    Reads 1,121
  • WpVote
    Votes 102
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 4, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Nabila Tan atau biasa dipanggil Biwa. Ia menjalani hari-harinya dengan rasa takut yg sedari dulu sudah menjadi teman dan musuh sehari-harinya. Perasaan tidak bisa kita hindari sama seperti hari esok. Tubuh yg semakin hari semakin hancur karena lebam dimana mana. Ia melewati hari-hari penuh dengan siksaan teman-temannya disekolah. "Didunia ini menjadi miskin itu sungguh menyakitkan". Asiyah Hauraz atau biasa dipanggil Sisi. Menjadi nomor 1 disekolahnya itu tidak penting baginya, Baginya apa itu belajar, apa itu disiplin, apa itu nilai bagus. Yang ada dipikirinnya hanyalah uang, uang dan uang. Jangan salah dulu, maksud disini, ia adalah wanita pekerja keras. Menurut Sisi didunia ini yang kita butuhkan hanyalah uang, pendidikan itu nomor 2. Sisi mendedikasikan dirinya untuk membantu menjalankan restoran Sushi milik Mamanya. "Nilai bagus disekolah bukanlah segalanya, nilai mata uang adalah segalanya".
All Rights Reserved
#105
freenbecky
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines