STRAWBERRY CAKE

STRAWBERRY CAKE

  • WpView
    LECTURAS 5
  • WpVote
    Votos 5
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, mar 19, 2024
WpInfo
Ficción
Romance
𝐁𝐑𝐄𝐀𝐊𝐈𝐍𝐆 𝐍𝐄𝐖𝐒! "Di duga melakukan aksi bunuh diri, dua remaja yang di ketahui perempuan ini nekat lompat dari atap gedung sekolah! Yang memiliki tinggi empat lantai." "Satu di antaranya mendapat luka yang cukup parah sementara satu yang lainnya hanya mengalami luka ringan. Kabar terkininya dua perempuan tersebut sudah di bawa menuju rumah sakit terdekat, menggunakan ambulan yang beberapa menit lalu datang. Belum di ketahui apa motifnya na-" ┈••✩*⢄☽⢁✧ ••┈ Pepatah mengatakan, Jangan percaya pada siapapun di dunia ini sekalipun itu bayanganmu sendiri, kecuali Tuhanmu. Ya itu memang benar, dia memang tidak mempercayai siapapun termasuk Tuhannya. Dia lelah sungguh, Takdirnya begitu berat seolah semesta hanya menjadikannya objek mainan di kala dia lahir. Dia selalu berdo'a kepada Tuhan namun hanya tangisan kesakitan sebagai jawaban. Tidak cukup kah mereka membuatnya menderita? Apa baginya dia hanya seongok sampah menjijikkan hingga di pandang pun sudah haram hukumnya? Disaat kakinya berhenti melangkah ia tadahkan kepala menatap rembulan, lalu berkata 'Aku Menyerah'.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Rapuh Lalu Retak (RLR)
  • Aderaga [ON GOING]
  • NYAMAN [Proses Revisi]
  • No Longer Mate
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • DEVIAN [END]
  • Detik Depresi ( TAMAT )
  • A Hundred Days Closer [On Going]
  • Become an Extra or Main Character [END]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido